Diawal artikel ini saya ingin menegaskan kalau menurut saya tukang body shaming itu tidak layak mendapatkan perhatian kita, kecuali mereka adalah keluarga.

Body shaming sebenarnya bukan hal baru ya, sudah sejak saya bayi atau sebelumnya, body shaming itu sudah ada dan biasa terjadi. Untuk beberapa kasus malah hal itu tidak dianggap body shaming. Pengertian body shaming adalah tindakan merendahkan, menghina, atau mengejek fisik seseorang.

Apa bisa kita membedakan niat seseorang itu mengejek atau hanya mengevaluasi?

Pertanyaan di atas bisa jadi menjadi sebuah senjata pembenaran bagi orang-orang yang dianggap bodyshaming. Hal ini merujuk pada kesimpulan yang sudah saya tulis di awal artikel. Kita sebenarnya tidak perlu memberikan perhatian atau membalikan komunikasi kepada orang yang memiliki kecenderungan body shaming.

Misal nih, saya merupakan pria bertubuh tambun. Dalam sebuah kesempatan saya bertemu teman lama, awal obrolan dia langsung menjurus ke body shaming. Saya pribadi tidak akan meladeninya, kalau memang sudah parah, tinggalkan saja. Kita bisa kok hidup tanpa dia disekeliling kita. Soalnya kalau kita meladeni, dia akan pembelaan, dan ujung-ujungnya kita harus adu berargumen tentang dia yang seharusnya tidak melakukan body shaming. Bukan kewajiban kita untuk memahamkan dia terkait body shaming, lebih lanjut lagi bukan kewajiban kita untuk mengubah tabiatnya. So, just don’t give a fuck!

Sikap dari skenario di atas tidak disarankan untuk dilakukan kalau hal itu terjadi di inner circle atau keluarga inti kita. Misal nih, saya sebagai suami melihat keponakan secara reflex mengomentari fisik keponakan yang sedang asyik bermain mobil-mobilan. Padahal si bocah sehat sentosa, namun sudut pandang saya pribadi saja yang menganggap itu tidak sempurna. Nah, di sini orang yang mendengar tindakan itu, yang masih satu keluarga, bisa istri, kakak, atau adik wajib memperingatkan saya. Silahkan terserah Anda bagaimana caranya.

Karena kalau dalam inner circle ada orang dengan tabiat suka body shaming, suasana saat berkumpul akan jadi sering awkward. Terlebih lagi, in imasih keluarga inti, jadi masih tanggung jawab kita untuk mengingatkannya, memahamkannya mengenai body shaming. Jangan sampai si saudara tumbuh menjadi pribadi yang menganggap body shaming adalah hal normal dilakukan.

Jangan Sampai Saudara Kita Tidak Sadar Kalau Mereka mem-Body Shaming Anak-Anaknya

Ilustrasi ibu dan anak

Orang terdekat memiliki kemunngkinan terbesar untuk melakukan body shaming karena mereka yang setiap hari bersama kita. Nah, tanpa kita sadari kita juga bisa melakukan hal itu ke anak-anak kita. Mungkin niatnya hanya bercanda, namun dilakukan terus menerus. Jangan sampai hal itu mempengaruhi rasa percaya diri si anak ya, hati-hati kalau ngomong.

Intinya, kalau menurut saya, body shaming itu tidak baik, namun yang lebih penting buat kita, bagaimana kita menghadapi body shaming. Jangan hanya karena mulut orang yang tidak bertanggung jawab, kita yang terbebani. Ayo melatih diri untuk tidak terlalu peduli apa kata orang. Terutama orangnya tidak signifikan bagi hidu kita. Kalau aku signifikan bagi hidupmu ya coba dengerin aku.