Derasnya arus informasi membuat kebanyakan orang tanpa sadar mengalami overlaod informasi. Tak sedikit yang secara instan menjadi seorang pakar dan merasa paling tahu. Derasnya arus informasi ini seperti dua sisi mata pisau. Semuanya tergantung cara kita menyikapi dan memanfaatkannya. Bisa negatif juga bisa positif. Efek yang paling nyata terkait derasnya informasi adalah beredarnya informasi palsu atau berita hoax. Hal itu tidak mungkin bisa dihilangkan. Oleh karena itu, agar tetap menjadi kaum-kaum waras, kita harus bisa membedakan dan memilah-milah informasi yang ada. Bagaimana caranya? Yuk kita bahas bersama. Inilah 5 tips sederhana mencegah penyebaran berita hoax.

Tak perlu berambisi untuk menjadi yang pertama.

Menurut saya, ini adalah salah satu langkah awal untuk mencegah penyebaran berita hoax. Kita tidak perlu berambisi untuk menjadi yang pertama menyebarkan informasi. Status whatsapp sekarang ini sering dipenuhi dengan informasi yang terpotong-potong, belum jelas, hingga belum terkonfirmasi. Saat si empunya akun WA ditanya detail informasinya, dia sendiri tidak paham. Jawabannya, “Biar pertama share info aja,” nanti lama kelamaan ya lengkap informasinya.

Padahal, tersebarnya informasi yang sepotong-sepotong itu menjadi salah satu penyebab kekacauan. Kadang, khalayak belum perlu mengetahui suatu peristiwa sebelum hal itu lengkap dan jelas.

Kembali ke individu kita masing-masing, sebisa mungkin hindari menyebarkan informasi yang Anda sendiri belum paham kejelasannya. Tidak perlu berambisi terlihat keren karena tahu lebih awal. Gunakan hati nurani, jadilah orang yang takut kalau menyebarkan informasi salah dan itu termasuk fitnah. Tau kan, fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.

Lebih Baik Skeptis & Diam

Dikarenakan arus informasi yang terlalu deras dan sulit dipisahkan antara yang asli dan palsu, maka respons awal yang paling baik adalah tanamkan skeptis dan diam. Meski informasi yang kita dapat sudah benar dan akurat, pola pikir skeptis akan membuat kita untuk menelusuri lebih jauh akan kebenaran informasi. Setelah kita mengetahui bahwa informasinya valid, kita bisa menyebarkannya dengan penuh tanggung jawab. Diam yang kita lakukan bisa menjadi penghambat tersebarnya informasi salah, meski informasi yang kita dapat benar, diam yang kita lakukan tidak akan  merugikan siapapun.

Jadilah Individu Kreatif

Derasnya arus informasi juga berarti mudahnya mendapat informasi. Oleh karena itu gunakan kreativitas kita. Konfirmasi semua informasi yang akan kita sebar atau yang akan kita baca. Zaman sekarang semua bisa disunting sesuai keinginan oknum-knum penyebar hoaks. Capture berita di media nasional pun bisa dimanipulasi dengan sangat mulus. Gunakan internet, manfaatkan mesin pencari. Cari kata kunci yang ada di sumber berita, bandingkan hasilnya dari yang muncul di mesin pencari. Sekarang ini sudah banyak komunitas atau website baik dari swasta atau pemerintahan yang berisi konfirmasi berita hoaks.

Kalau kita mau menggunakan nalar dan kreativitas kita, maka kemungkinan kecil kita termakan berita hoax. Malah seharusnya kita bisa menjadi educator bagi teman dan keluarga. Setidaknya di grup Whatssapp.

Hindari Menyebarkan Info Yang Ditulis di Whatssapp

Banyaknya pengguna aplikasi chat Whatsapp menjadikan aplikasi ini sebagai salah satu sumber berita-berita hoax. Siapa yang belum pernah mendapat pesan-pesan di Whatsapp yang mengatasnamakan individu tertentu. Sebenarnya hal ini sah-sah saja, asalkan kontennya tidak berisi hal-hal yang salah, bohong, atau menyebar kebencian. Oleh karena gampangnya pesan di Whatsapp di manipulasi, saya pribadi menyarankan kita tidak perlu menyebarkan info yang diketik di Whatsapp. Kecuali kita sudah memvalidasinya.  Siapa juga yang kenal dengan professor-professor yang menulis pesan tentang hal-hal yang sedang menjadi polemik. Tiba-tiba di grup keluarga ada pesan Presiden disuruh vaksin ulang, tak perlu lah hal-hal seperti itu disebarkan. Cari kebenaran tentang hal seperti itu juga buang-buang waktu.

Pesan-pesan seperti ‘Surat dari Kiai A Mengimbau Umat Untuk Menolak Keputusan Presiden’ . Nama kiai yang dipakai di surat tersebut merupakan tokoh besar dengan pengikut yang besar. Kalau pesan itu benar, mengapa Sang Kiai tidak memberikan pesan dengan cara yang lebih elit? Mengapa tidak melakukan konferensi pers secara resmi? Saya pribadi sih yakin, karena pesan itu palsu, jadi mentok di tulisan di Whatsapp.

Disclaimer: Hal ini mungkin tidak berlaku bagi undangan-undangan yang bersifat lokal, seperti rapat RT dan pengajian rutin. Karena hal itu bisa dengan mudah dikonfirmasi.

Jangan Malas Membaca

Jadi orang jangan malas membaca, dengan membaca kita bisa mengetahui konteks sebuah berita, sebuah informasi. Membaca membantu kita memahami informasi-infomasi yang ada, membaca juga akan membuka nalar kita akan sebuah informasi. Sehingga kita tidak akan mudah terkecoh dengan informasi abal-abal.

Kira-kira itulah lima langkah sederhana untuk mencegah penyebaran berita hoax. Mulai dari diri sendiri, mulai sekarang, dan jangan pernah bosan belajar.