Kerja Keras Komunitas Film Indonesia Dimulai Pasca TKFI

Temu Komunitas Film Indonesia (TKFI) 2016 selesai diselenggarakan, apa setelahnya?

Temu Komunitas Film Indonesia (TKFI) 2016 telah selesai diselenggarakan, acara bertaraf nasional itu berlangsung selama 3 hari, pada tanggal 25 – 27 Maret 2016, bertempat di Villa Kayu Palem, Baturraden, Jawa Tengah. TKFI menyelenggarakan rangkaian acara seperti, layar tancap, kelas tematik, forum pendanaan, presentasi tentang film Indonesia hari ini, dan beberapa acara hiburan lain.

“Selama tiga hari ini banyak cerita yang terbagi, begitu banyak informasi yang terkumpul. Kita bicara tentang pengolahan data, koordinasi komunitas, penguatan jaringan, dan lain sebagainya. Kerja keras sebenarnya baru dimulai setelah acara ini,”  tegas Dimas Jayasrana, salah satu penyelenggara TKFI, dalam siaran pers yang diterima Muvila

Kelas tematik TKFI mendatangkan berbagai profesional dari berbagai bidang, antara lain, Idaman Andarmosoko, seorang fasilitator organisasi yang berbicara mengenai penulisan proposal. Kemudian ada Lulu Ratna dan Amin Shabana (Boemboe, organisasi yang berfokus pada promosi dan distribusi film pendek, red) yang berbicara tentang pengelolaan pemutaran dan festival film. Kelas ketiga ada Ahsan Adrian (Sineas film)  yang berbicara tentang pengelolaan teknis pemutaran film. Kemudian ada kelas kritik dan apresiasi film bersama Adrian Jonathan Pasaribu dan Makbul Mubarak dari Cinemapoetica. Kelas kelima membahas tentang distribusi dan teknologi bersama Dimas Jayasrana (Cinemapoetica) dan Dennis Adhiswara (Layaria Network). Kelas keenam adalah penulisan skenario bersama Perdana Kartawiyudha, penulis skenario Cinta Tapi Beda (2012).

 

Untuk forum pendanaan, TKFI menunjuk 5 dari 18 pengirim proposal untuk melakukan presentasi di hadapan para juri. Kelima kandidat antara lain, Ruang Film Bandung, Komunitas Gubuak Kopi Solo (Sumatra Barat), Komunitas Kedung (Kebumen), Kine Klub (UMM), dan Liarliar Films (Solo). Dari lima komunitas itu terpilih Kine Klub UMM dengan program Malang Film Festival dan Komunitas Kedung dengan program Sinema Kedung Meng Desa-desa. Keduanya berhak mendapat dana dukungan sebesar Rp 5 juta.

“Kami berharap pemenang tidak berpikir bahwa acaranya hanya bermodalkan lima juta saja. Hadiah tersebut hanya sebuah bentuk dukungan,” ucap Dimas Jayasrana. Kedua pemenang juga berkesempatan mengumpulkan dana dengan cara crowdfunding melalui situs wujudkan.com

Sesi presentasi tentang film Indonesia hari ini dilaksanakan di malam penutupan. Malam itu Abdul Kharis dan Mujib Rohmat, anggota DPR RI Komisi X dan Panitia Kerja Perfilman Nasional, serta Maman Wijaya ketua Pusat Pengembangan Pefilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan turut meramaikan TKFI.

tkfi

Adrian Jonathan Pasaribu membahas perilah sensor film dan persebaran bioskop. Menurut Adrian, selama ini bioskop hanya bisa mengakomodir jenis film tertentu saja, hal ini berimbas dengan sedikitnya pilihan film bagi publik, imbasnya lagi, hanya sedikit warga yang bisa dilayani oleh bioskop. Adrian juga mengkritik tentang pernyataan Lembaga Sensor Film yang mewajibkan sensor film dalam tingkat komunitas. “Kenapa cara kita berkarya harus disentralisir? Kenapa juga penerimaan kita terhadap film harus ditentukan oleh segelintir orang saja?”, tanya Adrian. “Karena hal-hal tersebut, menurut saya, inilah alasan penting mengapa komunitas film harus berkumpul dan memikirkan apa yang sudah mereka lakukan selama ini,” tambah pemimpin redaksi Cinemapoetica.com itu.

Dari sisi pemerintah, Abdul Kharis menyampaikan bahwa timnya tengah melakukan pengawasan pada Undang-undang no.33 tahun 2009 tentang perfilman. Ia menyebutkan fakta mengenai jumlah film Indonesia tidak mengalami peningkatan, bioskop masih tersentralisir di kota-kota besar, dan tidak sedikit masyarakat yang tak memiliki akses ke bioskop, maka diperlukan penggolongan bioskop menjadi beberapa kelas. Hal ini dimaksudkan untuk mengakomodir sifat-sifat dan karakter penonton yang beragam.

TKFI juga berkesempatan mengenal Pusat Pengembangan Perfilman yang menjadi bagian dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Maman Wijaya menegaskan kegiatan perfilman yang dilakukan Pusat Pengembangan Perfilman adalah sebuah aktivitas perfilman yang tidak berorientasi pada bisnis.

 

TUJUAN TKFI 2016

Dari banyaknya rangkaian acara dan ilmu yang dibagi sesama komuntias film, muncul sebuah pertanyaan kritis, ‘Setelah ini apa?’.

Menurut Dimas Jayasrana, TKFI 2016 memiliki tujuan utama untuk membagun jejaring antar komunitas film. Oleh karena itu tinjuan pasca acara lebih kepada pengamatan aktivtias jejaring antar komunitas, bukan pengawasan terhadap kerja-kerja besar antar komunitas.

Agenda terdekat pasca TKFI 2016 adalah menyiapkan mekanisme kerja  dan sumber daya untuk mendampingi para penerima dana dukungan dari Forum Pendanaan. Selain itu, data-data dan informasi yang masuk selama TKFI akan diolah  agar bisa segera dirilis secara publik. “Seperti yang sudah saya bilang tadi, kerja keras sebenarnya baru mulai setelah ini,” tutup Dimas.

Sumber foto: Dokumentasi Panitia

Catatan: Saya bukan orang komunitas film, saya juga tidak mengikuti TKFI 2016. Hanya saja saya beruntung, tempat kerja saya memberi saya akses untuk rilis acara ini, sebagai bentuk kecintaan terhadap film, jadi menurut saya tidak ada salahnya nge-share rekap an acara TKFI 2016. Bagi yang mau baca versi tempat kerja saya di sini 

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
[+] kaskus emoticons nartzco

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.