Siklus Dua Tahunan; Zona Nyaman Atau Males Kerja

Sudah lama nih ga curhat di blog, akhir-akhir ini maksain harus nulis yang bermanfaat, jadi jatuhnya kurang produktif. Sah-sah aja kali ya, nulis curahan hati, manfaat apa tidak kan kembali ke pembaca. Hehe… Kali ini saya mau menuliskan tentang perjalanan hidup, soal zona nyaman, keluarga, dan beberapa keputusan yang perlu pertimbangan panjang.

Membahas tentang dunia kerja, Alhamdulillah saya bisa dikatakan langsung kerja tak lama setelah lulus kuliah akhir 2014. Ga perlu bahas lama kuliahnya ya. Saya merantau ke Malang, Jawa Timur untuk bekerja di sebuah media online yang cukup punya nama besar di Indonesia.

Pekerjaan berjalan lancar, setidaknya menurut saya. Sesuai passion saya, menulis, ga jauh beda sama blogging, berkutatnya sama film lagi. Sampai-sampai suatu waktu saya saat dapat rejeki ditelpon sama Pevita Pearce.  *kalian yang sedikit yang pernah mendengar rekamannya, bersyukurlah, hapenya masih ada, datanya yang hilang.*

Ya namanya manusia berproses dan berkembang. Lama kelamaan saya merasa kurang nyaman. Bukan karena lingkungan, manajemen, atau menulisnya. Lebih karena saya belum bisa menerima metode bisnis media online.  Long story short, setelah hampir dua tahun, saya izin ke Ibu buat resign. Meski niatan resign ga sesuai rencana, intinya saya bisa keluar dan pulang ke Solo tepat sebelum lebaran. Saya sukses merayakan Idulfitri 2016 sebagai pengangguran.

Bahagia pastinya. Masih tetap pengen nulis, tapi dengan idealisme sendiri

Di Solo, sempat ingin belajar dagang sama Kakak, tapi ga berjalan lancar. Ibu mulai tak suka anak laki nya tidur-tiduran aja di rumah. Akhirnya beliau pengen saja ngantor lagi, entah di mana terserah. Bak gayung bersambut, dapat kabar dari teman ada lowongan di salah satu perusahaan media terbesar di Kota Solo. Lowongan buat media online nya, pas banget kan. Singkat cerita saya diterima. Jadilah saya ‘budak’ media online untuk kedua kalinya.

Suasana pekerjaan masih sama kayak sebelumnya, menyenangkan, keluarga baru, rutin lagi menulis berita. Saat di Solo lebih menyenangkan karena dekat keluarga. Namun ya itu, saya masih sering merasa ga sreg dengan model bisnisnya. Mungkin itu yang menyebabkan saya jadi kurang produktif. *Boleh dong ya pembenaran*.

Nah, mirip saat di Malang, saat memasuki semester kedua di tahun kedua, saya mulai menanyakan tujuan saya ke depan. Wacana resign mulai muncul. Sering diskusi sama temen, isinya ngeritik perusahaan. Di momen-momen ini saya sudah nikah, wacana resign diperkuat dengan wacana lain. Saya pindah sama Istri terus dikasih kerjaan. That sounds like a heaven kan ya. Deket sama istri plus dapet kerjaan bukan di media. Bayanganya nine to five, sisanya bisa buat nulis.

Akhirnya setelah lebaran 2018 saya resmi resign trus hijrah dari Solo ke Brebes. Tak perlu waktu lama, langsung ke Kuningan untuk berkenalan dengan pekerjaan baru. Seperti manusia pada umumnya, semangat diawal selalu tinggi. Harus nge kost dan sering sendirian pun dijabanin. Saya udah terlatih saat di Malang. Sepekan hanya weekend bisa sama istri.

Kerjaan baru ini bisa dibilang jauh dari kuliah dan passion saya. Sebelumnya ga pernah pegang-pegang Excel, jadi harus paham. Harus mengerti rumus-rumus Excel. Baru tiga bulan di Kuningan dengan load kerja yang sangat tinggi, saya di mutasi ke Cirebon. Sekitar delapan bulan di Cirebon, dimutasi ke Tegal. Hampir satu tahun di Tegal, awal tahun ini dimutasi ke Cirebon lagi. Selain di Kuningan, saya bekerja di Lapangan dan langsung berinteraksi dengan publik.

Seiring berjalannya waktu, muncul gejolak di hati. Selama dua tahun terakhir saya selalu benci dengan faktor nonteknis yang muncul di Lapangan. Muncul kesan dari manajemen kalau hal hal nonteknis itu dijadikan cara utama untuk mencapai tujuan.

Bagaimana tidak benci ya, pengalaman saya sebelumnya cuman nulis, wawancara, nyari rumah narasumber, nulis lagi, translate, dan upload. Tapi di kerjaan yang baru, selain harus memikirkan kelancaran produksi, saya harus juga memikirkan mereka yang tak ada andil di kelancaran produksi. Konyol memang, tapi ini hidup. Saya takut lama-lama udah males protes jadi saya aminkan model bisnis kayak gitu.

Nah, selepas lebaran kemarin, hati kecil ini mulai berontak. Ketidaknyamanan mulai menguasai. Dedikasi seolah-olah tak dihargai. Mulai sering bete, marah-marah, di rumah pun ga nyaman karena kebawa emosi. Yes, I’m Impulsive.

Daripada diem marah sendiri terus stress. Akhirnya curhat ke Istri. Karena Istri lebih dewasa, dia memberikan rencana baru bagi kita. Namun awalnya saya harus benar-benar memantapkan tujuan dari langkah baru yang akan diambil. Ga boleh cuman sekedar karena ga suka sama manajemen. Ga boleh juga karena menganggap sistem di tempat kerja tak manusiawi. Kareba bisa jadi itu hanya anggapan saya yang bisa jadi salah.

Okelah, sekarang berarti memantapkan tujuan. Jadi mau resign lagi? Ya biarkan waktu menjawabnya.

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
[+] kaskus emoticons nartzco

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.