[Review Film] Z For Zachariah, Kisah Romantis Religius di Ujung Jaman

Sebelumnya pernyataan singkat, ini film bukan sekuel dari V For Vendetta, bukan karena judulnya punya rima yang hampir sama maka dua film ini punya hubungan, tidak sama sekali tidak berhubungan. Kemudian satu lagi peringatan, jangan mencari karakter bernama Zakaria, karena ga bakalan ketemu. Haha dimulai ya review nya.

Untuk mengawali review film kali ini aku mau menyampaikan hal-hal yang baik. Seperti alasan yang membuatku nyempetin nonton film ini, Z For Zachariah premier di Sundance Film Festival bulan Januari lalu. Film ini juga nominasi calon penerima Grand Prize Jury-nya Sundance, cuman ya belum rejekinya menang. Menurutku dengan masuknya film ini di sebuah festival berkelas dunia ini menjadikan setidaknya film ini punyakeunikan tersendiri, dan ternyata bener, filmnya unik. Sebuah gabungan smooth antara drama apokaliptik dengan kisah cinta segitiga.

Z For Zachariah merupakan film yang disutradarai oleh Craig Zobel. Sebuah film independen dengan biaya rendah. Meskipun tak memiliki data mengenai biaya produksinya, aku bisa mengatakan film ini berbiaya rendah karena Z For Zachariah hanya memakai 3 aktor, plus Asu siji, mbuoh Asu ne kui dibayar pora. Z For Zachariah mengajak 3 nama popular Hollywood, yaitu Margot Robbie, Chiwetel Elijofor, dan Chris Pine.

Z For Zachariah diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Robert C. O’Brien. Film ini merupakan kisah post-apocalyptic era layaknya film The Road di mana Zombie bukan jadi ancaman utama, tetapi lebih mengedepankan kisah hubungan antar manusia di jaman paska bencana massal. Ann Burden (Margot Robbie) hanya hidup bersama Asu nya, mereka tinggal di sebuah kaki gunung yang asri, mereka berdua saling menemani dan bertahan hidup bersama. Diceritakan dunia luar selain lembah yang ditinggali Ann adalah daerah dampak bencana di mana racun misterius menginfeksi dan membunuh korbannya. Sejak kecil hidup di tempat itu Ann bisa terus bertahan hidup meski sudah taka da peradaban dikarenakan keluarganya sudah lama hidup bergantung dengan sayuran dan buah-buahan yang mereka tanam di sekitar rumah.

Ann yang sudah entah beberapa lama menjadi satu-satunya manusia di lembah tersebut mendapat kunjungan dari seorang laki-laki tak dikenal. Menemui daerah netral tak terkontaminasi, lelaki bernama John Loomis (Chiwetel Elijofor) yang ternyata ilmuwan pemerintah pun bahagia bukan kepalang, segera dia melepas baju pelindungnya, dan berendam di sungai terdekat yang ditemuinya. Ann berlari berusaha memperingatkan lelaki itu, hingga dikira ingin berbuat jahat, padahal Ann hanya ingin memperingatkan kalau air sungai itu berasal dari luar lembah, dan tercemar. Tertularlah ilmuwan tersebut. Ann yang sudah berdoa agar bisa bertemu lagi dengan manusia, sekarang harus merawat satu manusia yang terinfeksi.

z-for-zachariah

Melalui konflik pertama ini sutradara Craig Zobel mulai memasukan unsur-unsur religius dalam ceritanya. Ann ternyata perempuan muda yang lurus, semua yang dilakukannya berdasarkan aturan tuhan yang dipercayainya. Tak pernah lelah dia berdoa demi kesembuhan John, kasus yang sebelumnya belum bisa sembuh. Kisah bahagia berlanjut, John sembuh, dan mulai bisa membantu Ann melakukan kegiatan bercocok tanam, mengajari Ann untuk menggunakan pom bensin tanpa listrik, hingga menyarankan membuat pembangkit listrik tenaga air dari sungai tercemar.

Hidup berdua membuat mereka membangun hubungan romantis. Meskipun Ann yang religius dan John yang memakai logika sebagai tuhannya sering membuat mereka berbeda pendapat. Termasuk saat John berniat membongkar gereja kecil di lembah tersebut untuk menggunakan kayunya sebagai bahan membuat pembangkit listrik.

Di tengah hidup keduanya muncul lagi satu karakter asing, seorang pria lebih muda dari John bernama Caleb (Chris Pine). Sebagai pria yang lebih muda dari John, Caleb sangat lebih menarik di mata Ann daripada John. Disinilah cemburu mulai menjadi bahan cerita filmnya. Aneh sih, post-apocalyptic tapi isinya drama cinta-cintaan, tetapi dengan cerita yang dibangun secara mulus dari awal membuat kisah Ann dan John ini menjadi menarik untuk disimak akhirnya.

Meski didominasi dengan cerita layaknya drama keluarga, film ini tak kehilangan sisi suspense nya sebagai film post-apocalytic, framing beberapa adegan membuat penonton mengira yang tidak-tidak mengenai karakter film ini. Akan ada beberapa bagian adegan yang membuat para penonton sejenak menganggap karakter A atau B itu jahat.

Review ini tidak akan menceritakan filmnya sampai akhir ya, nanti ga sureprise lagi. Intinya konflik filmnya klimaks saat ketiga karakter itu berkumpul, hingga filmnya selesai ada sebuah lubang besar yang oleh sang sutradara dibiarkan menganga lebar untuk diisi oleh penonton di rumah. Siap melongo di akhir film sambil ngebayangin cerita filmnya, tonton film ini.

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
[+] kaskus emoticons nartzco

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.