Review Film – Chappie Si Robot Berperasaan

Selamat datang di review film selanjutnya dari rizalfikrydotcom. Kali ini film baru karya Neil Blompkamp (Elysium, District 9) yang berjudul Chappie. Film ini mempunyai inti cerita tentang sebuah robot polisi yang mempunyai perasaan. Sebuah robot yang hidup dengan Artificial Intelligence (AI) – kecerdasan buatan yang sempurna dan bisa mengembangkan ‘otak’ si robot menjadi lebih pintar dari Manusia. Seklias cerita ini memang bukanlah cerita baru  sebelumnya pernah ada film-film dengan inti cerita serupa, seperti I, Robot (2004) ada juga Wall-E (2008). Tetapi meskipun punya kesamaan, Chappie memiliki keunikan dan keistimewaan tersendiri, selain itu teknologi dan tingkat ke-realistis-an Chappie lebih baik dari pendahulunya.

Diceritakan dalam film tersebut, Afrika Selatan, khususnya Johanesburg menjadi kota yang mempunyai tingkat kejahatan sangat tinggi, polisi yang ada diceritakan kewalahan untuk mengatasinya, oleh sebab itu digunakanlah satuan polisi baru, yaitu polisi robot. Lebih unik lagi, film ini menceritakan perusahaan pencipta robot polisi ini juga berada di Johanesburg, Afsel, dan proyek ini menarik perhatian negara-negara adidaya di dunia ini, Amrik, Korut, dan Cina. Aku menyebutnya unik, karena sejauh ini mayoritas film-film Hollywood menggunakan Amerika sebagai pusat perkembangan teknologi no.1. Tetapi setelah menyelesaikan film ini, dirasa cerita ini memang lebih cocok terjadi di Johanesburg, Afsel, karena jika terjadi di Amerika pasti banyak pihak yang menganggapnya pelecehan.

Di film Chappie proses kelahiran robot berperasaan dikemas dengan unik dan lucu, (setidaknya menurutku), proses pembuatan AI yang ribet disederhanakan dengan Deon (Dev Patel) diceritakan bisa menyempurnakan AI yang mampu belajar dan berkembang seiring berjalannya waktu. Di sisi lain, ada penjahat amatir yang berencana mencuri remote control untuk membajak robot-robot polisi tersebut dan menculik Deon. Namanya juga penjahat amatir, penculikan berubah menjadi sebuah diskusi saat Deon menawari mereka robot yang bisa dilatih. Dengan bermodal robot polisi rusak, Deon membuat Chappie di markas para penculik, jadi lah robot baru yang berlagak seperti anak kecil. Udah sampai disitu sebenernya film ini biasa aja.

Chappie-movie-review

Poin khusus yang jadi nilai plus film ini adalah, ya ketiga penjahat amatir tersebut, bagaimana mereka berkomunikasi dan melatih Chappie untuk menjadi robot dengan kepribadian anak geng. Ninja, Yolandi, dan Amerika (Jose Pablo Cantillo), FYI aja ya, Ninja dan Yolandi itu nama asli mereka, mereka adalah personil dari grup Rap Die Antwoord, grup ini juga berasal dari Afsel, sepertinya di proyek film ini sutradara Neil Blomkamp ingin menggunakan talenta-talenta lokal berdarah Afrika.

Dari pertengahan film hingga akhir menampilkan perjuangan kocak ala kehidupan geng yang dialami Chappie, serta jiwa keibuan si Yolandi yang menganggap Chappie seperti anaknya sendiri, penjiwaan Yolandi jadi seperti seorang ibu menjadikan cerita film ini lebih menggiring emosi penonton, para penonton tidak hanya berfokus kepada nasib Chappie si robot yang berperasaan tetapi juga nasib para penjahat amatir yang berperasaan. Logat bahasa inggris orang-orang Afrika di film ini enak di denger, khas banget, menambah kelucuan dalam filmya.

Di akhir cerita digambarkan proyek robot polisi gagal total, sistem online seperti yang digambarkan dalam film sangat rentan diserang orang-orang tak bertanggung jawab, dan di film ini, menurutku momen di mana sistem scout (polisi robot) di serang dan mengakibatkan seluruh polisi robot ini jadi offline merupakan kelemahan dan penceritaan film ini, dan menjadikan Chappie bukan benar=benar inti cerita filmnya.

Hal ini ditambah dengan di akhir cerita filmnya, semua karakter yang seharusnya mati, bisa dihidupkan kembali, meskipun hanya ‘kesadaran’-nya. Dalam film ini pikiran, perasaan, hingga pengetahuan yang dipunyai seseorang disebut conscience, dan Chappie bisa menemukan cara untuk mentransfer kesadaran ini ke sebuah robot scout, dan sang pemilik kesadaran bisa hidup kembali, dan berkembang, lah gabisa mati donk? -untuk itu gausah dibahas, filmnya udah selesai.

Overall filmnya asik, layak tonton, aksinya ada, komedi dapet, fiksi ilmiahnya juga masuk.

1 comment

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
[+] kaskus emoticons nartzco

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.