Review Film – Age of Ultron Masih Jadi Kisahnya Iron Man

Halo semuanya, setelah beberapa kesempatan niat menulis review film tak terlaksana karena beberapa alasan. Akhirnya aku niat lagi buat nulis review, karena momen film yang satu ini memang terlalu ‘ngganjel’ kalau cuman berhenti di angan-angan saja. Jadi di bawah ini adalah review film Avengers versi rizalfikrydotcom

Review ini bukan review obyektif yang biasa kalian baca dari tulisan-tulisan mereka yang mengaku pengamat film, aku hanya penikmat film yang menuliskan perasaanya. Jadi maaf kalau ada yang kurang setuju, maaf juga kalau banyak spoiler. Bagi yang kurang suka spoiler, intinya aku bisa bilang Avengers: Age of Ultron layak tonton, baik kalian maniak Marvel atau bukan , tonton aja, seru kok.

Avengers: Age of Ultron, sama-sama diketahui merupakan film kedua dari kisah gabungan para superhero terhebat di bumi. Bahasa kerennya The Earth Mightiest Heroes. Oke, singkat saja film ini sebuah paket tontonan aksi yang luar biasa. Intro cerita tak perlu berlama-lama langsung berusaha mengobati rasa kangen penggemar dengan aksi para superhero ini.

Kalau menilik kisah awal film The Avengers tahun 2012 lalu, Iron Man memiliki porsi aksi yang lebih banyak dibanding yang lainnya. Dan bisa dibilang itu menjadi tontonan yang seru buat The avengers, mulai bagaimana S.H.I.E.L.D butuh Tony Stark untuk memulai proyek Avengers, hingga digambarkan dengan mudahnya Tony Stark menembus server milik S.H.I.E.L.D hingga portal yang dibuat Loki pun butuh sumber daya dari Stark Tower, hingga akhirnya Iron Man juga yang mengakhiri perang dengan korban minimum saat dia berhasil mengarahkan roket nuklir masuk ke portal.

Gambaran superior dari Iron Man itu kembali muncul di Age of Ultron, mulai dari Iron Man yang dijadikan ujung tombak penggeberekan lab rahasianya Baron, hingga saat Tony Stark terkena pengaruh halusinasinya Scarlet Witch tetapi masih tetep bisa belagak keren, dari adegan-adegan awal itu bisa ditebak jika Iron Man akan mempunyai porsi lebih banyak dari film pendahulunya, The Avengers.

Battle ini adegan terbaik di film ini.

Battle ini adegan terbaik di film ini.

Selain aksi memukau dan ulah jenius si Iron Man yang mendominasi film ini. Bisa diketahui jika dalam film ini Avengers Assemble sudah berdiri secara mandiri, dengan semua sumber daya yang dimiliki oleh Tony Stark (nah, peran Iron Man menonjol lagi). Selain kisah aksi yang heboh, ada juga sepercik cerita cinta dan keluarga. Dua cerita ini muncul dari dua agen Natasha Romanoff dan Clint Barton. Natasha terlibat cinta lokasi dengan si Hulk Bruce Banner, digambarkan bagaimana perasaan diantara mereka berdua sebenarnya ada, hanya saja Bruce masih belum bisa mencintai seseorang dengan adanya Hulk di dalam dirinya, konflik kecil ini mewarnai film dengan porsi yang lumayan besar. Untuk si Hawkeye, akhirnya sosok keluarga dan rumahnya dimunculkan dalam film ini, hal ini semakin menambah sesak karakter dalam film ini.

Bicara tentang Iron Man, dari sinopsis resmi film ini, sepertinya Iron Man lah yang patut dipersalahkan karena proyeknya menciptakan Ultron membuat bumi dalam bahaya, tetapi sekali lagi, setidaknya menurut pengamatan pribadi saya, Iron Man tak akan pernah tersudut dan merasa bersalah terlalu lama, semua hal yang sepertinya memang kesalahannya itu ditebus dengan kelahiran Vision.

Selain itu, untuk kali ini Age of ultron tak terasa rasa Amerika nya, berbeda dengan The Avengers yang sebagian besar cerita dan set tempatnya masih terlalu berasa Amerika. Age of Ultron sukses membuat cerita dan setnya berwarna-warni, berasa global, menjadikan Ultron benar-benar masalah Global, bukan hanya lokal New York saja. Seiring berjalannya waktu dan bertambah modernnya jaman ini, mungkin Marvel Studios tahu jika kunci kesuksesan film-film mereka bukan hanya berasal dari Amerika. Toh, mungkin mereka juga mikir agar franchise film ini bisa bertahan lebih lama, propaganda ala Amerika bisa disimpan untuk kesempatan selanjutnya, sekarang saatnya merangkul semua yang bisa dirangkul. Toh, dari rumor cerita Civil War, akan banyak keluar unsur pemerintahan di film ini, yang tak lain tak bukan ya Amerika lagi.

Semakin global cerita film ini, semakin banyak pula karakter yang muncul. Scarlet Witch dan Quicksilver lumayan sukses menambah konflik dan kepadatan cerita yang ada, cuman aku sedikit kurang setuju, Quicksilver dimatiin. Seperti yang sudah aku bilang, rasa Amerikanya kurang greget, begitu juga si Captain Americanya, sosok kepemimpinannya sedikit tergerus di film ini.

Alih-alih New York, yang diceritakan di film ini adalah sebuah kota fiktif bernama Sokovia, hal ini juga membuat Age of Ultron berasa lebih netral dan less guilty jika cerita ini berakhir dengan kehancuran kota tersbut, tak seperti dalam film The Avengers, hancurnya kota bukan pilihan saat itu. Dan sekali lagi dalam film ini Iron Man mempunyai peran besar untuk sekali lagi mencegah kiamat.

Yang membuat cerita Marvel Cinematic Universe itu menarik adalah bagaimana perbandingan ceritanya dengan komik, bagaimana perbandingan origin dan penampilan karakter-karakternya dengan yang ada di cerita komiknya, menurut aku pribadi itu yang membuat cerita MCU ini menarik dan layak untuk diikuti terus.

Marvel Cinematic Universe masih akan melanjutkan proyeknya hingga bertahun-tahun ke depan. Mungkin film ini akan menjadi sebuah kisah klasik buat anak-anak ku nanti. Dan mereka paham kisahnya dengan membaca tulisan bapaknya.

2 comments

  1. Sunawang - Reply

    Aku udah nonton. emang keren sih. aku juga sedikit kecewa karna quicksilver nya mati :(. btw, age of ultron ini menurutku lebih keren dari avengers yang pertama :D
    Sunawang recently posted..May Day At Pantai SrauMy Profile

    • rizalfikry - Reply

      tapi klo dari sisi cerita aku lebih pilih yang pertama, lebih rapi,,,

      yang ini rasanya penuh, konfliknya banyak banget,,,

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
[+] kaskus emoticons nartzco

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.