Review Film – Whiplash, Ini Bukan Film Motivasi Bagi Musisi

- Muqaddimah - Whiplash, film yang relatif baru, dirilis di berbagai negara mulai awal Januari lalu, tetapi baru rilis di bioskop Indonesia akhir Februari lalu. Secara umum film ini bercerita tentang hasrat musik seorang drummer Jazz yang melakukan apa saja untuk meraih mimpinyaKarena aku bukan pakar Jazz, jadi aku tak bisa banyak ngomong soal JAzz dalam film ini, aku bakalan lebih ngebahas ceritanya. Film ini mendapat 3 piala Oscars, dan masuk menjadi salah satu nominator film terbaik Oscars tahun 2015. Tapi kalah sama Birdman.

Sebenarnya cerita film Whiplash bisa dibilang biasa saja, berpusat dalam kehidupan mahasiswa sekolah musik di kota New York, film ini mulai menggambarkan satu sosok mahasiswa junior yang berambisi besar untuk menjadi musis hebat, dalam kasusnya, film ini menggambarkan seorang drummer muda bernama Andrew (Miles Teller). 

Setelah itu ada karakter satu lagi bernama Fletcher (J.K Simmons) yang menjadi penggerak keseluruhan cerita film ini, model-model film seperti Whiplash ini akan menutup sosok karakter utama yang sebenarnya menjadi inti cerita. Di film ini Fletcher mempunyai porsi dialog paling banyak, bahkan doktrin-doktrin kece juga dikeluarkan dari mulut Fletcher, salah satunya ‘There are no two words in the English language more harmful than “good job”.’ Berkali-kali Fletcher menekankan jika sebuah pujian akan menyebabkan seseoarang tak bisa mencapai titik puncaknya. Dalam film ini Fletcher digambarkan sebagai konduktor musik yang keras, cara mengajrnya cenderung ke bullying.

Tak butuh waktu lama untuk Andrew berada di bawah pengawasan Fletcher sebagai drummer utama dalam tim. Hal ini membuat Andrew semakin tergiring dengan hasratnya untuk menjadi musisi tenar. Dari sini digambarkan Andrew yang berlatih drum setiap hari sampai tanganya berdarah-darah. Gambaran karakter masokistik, Andrew rela merasakan sakit hanya untuk menjadi drummer yang lebih baik dari yang lainnya. Mungkin Andrew mendapat kepuasan setelah berlatih dengan keras, sampai berdarah-darah (ga segitunya juga kali mas!). Di sini menurut aku penggambaran perjuanganya masih masuk akal, sedikit berlebihan tetapi masih membuat penonton penasaran dengan ceritanya.

Hingga suatu saat, sewaktu akan konser, Andrew terlambat datang, dan posisinya akan digantikan oleh drummer cadangan, nah, disini menurut aku ceritanya mejadi sedikit berlebihan dan kurang enak dipandang. Andrew yang lari pontang-panting untuk mendapatkan posisinya kembali sebagai drummer utama datang ke arena konser dengan kondisi berdarah-darah (sekali lagi berdarah-darah) karena mobil yang ditumpanginya ditabrak truk, karena Andrew terlalu terburu-buru. Dengan kondisi terluka jelas Andrew tak bisa memukul drum dengan benar, karena merasa malu dan marah dengan Fletcher, Andrew yang terluka malah menyerang sang guru, Fletcher.

Ceritanya belum selesai, dan film ini berubah menjadi lebih menarik setelah penyerangan ini. Andrew yang dikeluarkan dari sekolah musik setelah menyerang Fletcher, ditemui seorang pengacara yang sedang menyelidiki kasus kekerasan dalam mengajar yang dicurigai dilakukan oleh Fletcher, mulai dari sini karakter Fletcher ditempatkan dalam posisi sebagai seorang antagonis, padahal dari awal, setidaknya menurutku Fletcher adalah seorang guru, terlepas dari sistemnya mengajar yang keras, itu sah-sah saja, selama para murid menerimanya (IMHO).

Dalam film ini sempat pula digambarkan Andrew yang sedang terpuruk, tak lagi memegang stik pemukul drum, tak pernah lagi berlatih, dan menyingkirkan drumnya, sepertinya mimpi menjadi drummer legendaris yang dia lakukan dengan esktrim sebelumnya seakan sudah siran terhempas angin, di sini seperti digambarkan karakter jiwa muda Andrew yang seperti belum mengetahui apa sebenarnya yang dia inginkan. Idealismenya seakan runtuh. Hingga akhirnya dia bertemu lagi dengan Fletcher, kembali, nasihat-dan cerita-cerita Fletcher membuatnya menjadi drummer.

Satu kejutan lagi muncul di akhir cerita film ini, sekali lagi Fletcher mengejutkan penonton, momen-momen yang dirasa akan menjadi sebuah cerita bahagia, ternyata momen balas dendam seorang Fletcher kepada Andrew. Tetapi aku lebih memilih mengatakan jika momen terakhir film Whiplash adalah langkah paling benar yang diambil Flethcer, karena dengan hal itu, terbukti sudah nasihat-nasihat Fletcher berguna untuk Andrew dan keberlangsungan karirnya.

Overall, film ini layak banget buat ditonton, selain cerita drama musik ekstrimnya, musik-musik Jazz juga membuat film ini menarik untuk dilihat. Mesti abis nonton film ini jadi pengen browsing musik-musik Jazz yang dijadiin soundtrack filmnya deh.

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
[+] kaskus emoticons nartzco

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.