Review Film: The Road – Ayah Tak Akan Pernah Menyerah

- Muqaddimah, The Road merupakan film yang rilis tahun 2009, film ini mendapat rating 7.3 di IMDB dan 75 persen dari si Tomat Busuk. Secara umum film ini menceritakan tentang situasi pasca kehancuran bumi, atau bahasa kerennya 'Post Apocalyptic Movie'.

The Road merupakan satu dari beberapa film Post Apocalyptic yang spesial, setidaknya menurut aku. Film ini tak hanya menawarkan ketegangan ala film-film post apocalyptic lainya, tetapi film ini juga menyajikan drama keluarga, khususnya hubungan ayah-anak.  Sejenis dengan film-film post apocalyptic lainya, film ini juga tak memiliki premis awal yang jelas, tiba-tiba saja keadaan sudah genting, bumi hancur, keadaan sudah kacau, menyisakan tokoh dalam film sebagai orang atau sekelompok yang berhasil bertahan.

The Road berjalan menjelaskan apa yang terjadi pada dunia di film itu lebih banyak dengan menggunakan narasi dari karakter utama. Digambarkan di film tersebut cuaca bumi sudah tak bersahabat lagi, panasnya akan terasa sangat panas, dan dinginnya akan menusuk tulang, tanaman sudah tak lagi bisa tumbuh, peradaban manusia tinggal beberapa, menyisakan mereka yang kanibal, dan mereka yang kelaparan.

Ayah-anak yang diperankan oleh Viggo Mortensen dan Kodi Smit-McPhee berjalan ke arah pantai, untuk mencari koloni yang masih bertahan dan tak kanibal. Tanpa kepastian mereka berdua berjalan menuju daerah pesisir. Perjalanan mereka bukan tanpa hambatan, seperti yang telah distuliskan di atas mereka bertemu kelompok kanibal, yang tak segan-segan membunuh orang asing yang bukan koloni mereka, dengan tujuan untuk dijadikan sumber makanan.

Di samping itu sang ayah dan anak tersebut tak juga luput dari kelaparan, tetapi sang ayah terus-menerus menanamkan sebuah pengertian ‘orang baik tak memakan daging manusia’ kepada anaknya, dan mereka harus tetap menjadi orang baik, tak peduli se-lapar apapun. Ada satu scene yang menggambarkan mereka berdua hanya memakan memakan masing-masing setengah  dari satu ekor belalang yang tak sengaja mereka temukan. Selain itu sang ayah juga mengajarkan pada anaknya bagaimana caranya untuk bunuh diri, daripada menjadi kanibal atau harus mati di tangan kanibal, lebih baik mati bunuh diri.

Film ini memakai alur maju-mundur untuk membangun ceritanya, untuk memahamkan para penonton tentang bagimana mereka bisa berjalan hanya berdua menuju daerah pesisir, film ini menguak latar belakang ceritanya melalui bayangan masa lalu sang ayah, entah saat dia melamun atau dalam bentuk sebuah mimpi.

Di film ini sang anak (Kodi)  masih sangat lugu, dan penakut, hampir dia tak bisa menjaga dirinya sendiri (sang anak lahir beberapa waktu setelah kondisi bumi mulai memburuk, logikanya dia tak pernah mendapat pendidikan formal). Posisi ini membuat sosok sang Ayah menjadi peran sentral untuk kelangsungan hidup sang anak. Dan membangun kesan jika mereka berdua tak akan berhasil mencapai tempat yang mereka tuju.

Selama perjalanan mereka berdua, sang ayah digambarkan mulai sakit-sakitan, dia juga terluka dikarenakan beberapa pertempuran. Hingga saat di pantai, akhirnya sang ayah tak mampu lagi berjalan, dia hanya bsia berbaring, ditemani sang anak yang duduk di sampingnya, hingga esok hari datang,sang ayah sudah tak lagi ada di dunia. Bagaimana nasib sang anak? tonton sendiri filmnya.

Sebagai sebuah film post-apocalyptic, memang adegan pertempuran di film ini tak sebanyak film se-genre lainya, tetapi ketegangan film ini sudah bisa dikatakan ada. Nilai plusnya ya gambaran hubungan ayah anak yang menjadi sentral cerita film ini. Bukan hanya ayah dan anak, tetapi keluarga.

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
[+] kaskus emoticons nartzco

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: