Mental Talk Show Indonesia

Sebagai salah satu dari sekian juta penonton acara televisi Indonesia, saya punya hak untuk menuliskan sebuah opini yang timbul dari perasaan yang telah lama terpendam mengenai acara televisi Indonesia. Khususnya mengenai sebuah acara yang kebanyakan stasiun televisi sebut sebagai acara talk show. Sebelumnya apa sih maksud dari ‘talk show’ itu sendiri?

Talk Show yang dalam bahasa Indonesai bisa juga disebut dengan Gelar Wicara adalah sebuah  acara radio atau televisi yang bertujuan untuk membicarakan atau berdiskusi mengenai sebuah hal tertentu antara tamu (biasanya publik figur, red.) dengan pembawa acara. Biasanya tema-tema yang di bahas dalam talk show adalah tema yang sedang ramai di bicarakan banyak pihak. Tetapi hal ini tak menutup kemungkinan untuk tema-tema umum lain juga akan dibahas.

Secara umum talk show di tivi-tivi itu sudah mencakup tujuan dari acaranya sendiri, tetapi hal ini tak berarti acara ini tak terbebas dari masalah (setidaknya aku menganggapnya masalah). Apa yang dibahas dalam talk show tersebut? Bagaimana acara tersebut membahasnya? Apa manfaat dari pembahasan yang dilakukan acara tersebut? Tiga pertanyaan ini bisa sedikit mewakili apa yang sering menjadi masalah di sebagian besar talk show di tivi-tivi Indonesia.

Di sini saya tak menuntut semua talk show di tivi-tivi untuk mengangkat tema-tema yang berat dan harus selalu mempunyai manfaat yang orisinil bagi para penontonnya. Hal tersebut akan terkesan sangat utopis dan bisa-bisa menghilangkan esensi hiburan dalam acara-acara tersebut.

Sejauh ini kekhawatiran saya mengenai talk show di tivi-tivi Indonesia adalah banyaknya acara talk show yang seperti tak terkonsep (memang tak semua, tetapi ada, dan banyak), di dalamnya hanya diisi host (biasanya sih publik figur yang sebenernya ga pinter ngomong tetapi terkenal) dan co-host yang ngobrol kesana kemari kemudian kadang-kadang ditimpali satu sosok yang biasa disebut bintang tamu. Kesan tak terkonsep ini aku tangkap saat melihat pembicaraan para publik figur ini tak terarah, hanya banyolan-banyolan kosong yang tak jarang menggunakan candaan kasar. Hal ini sungguh tak cocok diungkapkan dalam sebuah acara yang disiarkan secara nasional.

Bahkan tak hanya sekali dua kali saya melihat acara yang sebenarnya bukan talkshow, disisipi satu segmen talkshow dengan tema yang dipaksakan. Apa iya hanya demi tuntutan rating yang melonjak, sebuah hal yang tak perlu diungkap malah dibicarakan di depan media bertaraf nasional? Apa segitu dalamnya pengaruh bisnis dalam produk media yang harusnya mengedukasi dan memegang estetika nilai moral? Ada yang bisa jawab?

Saya memang belum pernah bekerja di dunia pertelevisian, tetapi sedikit banyak saya tahu sebuah acara televisi pastilah mempunyai tim produksi yang merancang sebuah acara hingga akhirnya acara itu muncul di televisi. Nah, mereka yang bertahun-tahun belajar mengenai pembuatan produk media ini seharusnya lebih tahu mengenai kualitas sebuah acara, tapi yang muncul di depan layar masih seperti itu saja dari tahun ke tahun. Ini yang membuat saya merasa perlu menuliskan uneg-uneg mengenai talk show ini.

Kalau ada yang bilang penonton Indonesia tak suka dengan acara yang kontennya terlalu ‘berat’, kalau hal ini benar maka media-lah yang mempunyai tanggung jawab untuk mengedukasi penonton agar lebih bersahabat dengan acara berkonten berat, bukannya selera rendah dijejali dengan acara-acara yang tak membuat mereka berkembang.

Bulan lalu saya sempat meng-edit sebuah artikel berita mengenai profil salah satu  praktisi televisi senior di Indonesia (saya tidak akan menyebut nama dan stasiun televisinya di tulisan ini, karena saya merasa tak berhak menggunakan hasil jerih payah teman reporter yang susah payah liputan hanya untuk opini saya ini). Dari artikel tersebut saya mendapat pandangan baru mengenai dunia televisi. Secara umum wawancara tersebut memang mengamini kalau produk media memang sangat terikat dengan bisnis. Perusahaan media tak bisa hidup tanpa dana, dan untuk mendapat sponsor yang berarti sumber dana, sebuah media harus memiliki basis penonton yang besar, hal ini diwujudkan dalam sebuah rating sebuah acara. Hal ini berputar terus seperti lingkaran kematian yang tak akan pernah putus.

Sang praktisi tersebut mengungkap mau seidealis apapun acara televisi, kalau tak ada sponsor atau pendana maka matilah acara tersebut. Hal inilah yang membuat para praktisi televisi ini harus memutar otak untuk menghasilkan acara yang bisa cocok dalam dua sudut pandang, yaitu kebermanfaatan dan bisnis. Do’a ku menyertai kalian para praktisi televisi yang selalu mengusahakan acara yang benar-benar bermutu.

Sedikit mengetahui apa kenyataan yang ada di balik layar, tulisan ini berubah menjadi semakin kompleks dan seperti tak akan menemukan ujung solusi. Tetapi, di atas semua parameter-parameter yang ada, selama masih ada acara talkshow yang membiarkan hostnya ‘ngawur’ demi menghabiskan durasi, selama masih ada kontes dangdut yang tiba-tiba ngebahas kematian orang tua pesertanya dan ‘menuntut’ semua orang meneteskan air mata, hal ini berarti abad kejayaan masih berada nun jauh di sana. Kalian para generasi muda, mulailah membuka mata, hiburan bukan semata-mata menghibur, hiburan yang baik itu mencerahkan. Mulailah memberi tahu dari ibu kalian masing-masing kalau nonton acara kompetisi dangdut ditonton pas nyanyi-nya aja. Selepas itu, ganti channel!!

Sumber gambar ilustrasi cg4tv.com

2 comments

  1. Anonim - Reply

    Yang saya harapkan kalau talkshow di Indonesia kedepannya lebih berkelas dan menjadi sumber informasi bagi kita semua, tidak hanya sebagai hiburan bodoh semata.

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
[+] kaskus emoticons nartzco

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.